Tauhidkan Alloh!! Laa ilaaha illalloh..

Umar Bin Khaththab

"Tidak ada uzur bagi siapapun dalam kesesatan yang ditungganginya, yang dikiranya petunjuk. Juga (tidak ada uzur baginya) dalam hal petunjuk yang ditinggalkannya karena dikiranya adalah kesesatan. Sungguh, semua urusan (dien ini) sudah dijelaskan dan hujjah sudah tetap, uzur telah terputus. Hal itu karena as-sunnah dan al-jama'ah telah mengokohkan urusan dien ini seluruhnya serta sudah jelas bagi manusia, sehingga yang ada hanyalah ittiba' (mengikuti)." [Umar bin Al-Khaththab]

Selasa, 18 September 2012

Kenikmatan Hakiki

Nikmat yang bercampur dengan kebusukan adalah nikmat yang dilarang. kenikmatan ini akan membuahkan kesengsaraan setelah berlalunya. Maka apabila dorongan dari dalam dirimu sangat kuat untuk mendapatkannya, cobalah pikirkan setelah kenikmatan semu itu berlalu. Kenikmatan tersebut akan menyisakan dan meninggalakan kejelekan serta penderitaan. kemudian timbanglah antara dua perkara tersebut dan lihatlah segala perbedaan yang ada.

Disisi lain, keletihan dalam ketaatan adalah keletihan yang bercampur dengan kebaikan. Keletihan ini akan membuahkan kelezatan dan kedamaian. Ketika ketaatan ini berat bagi jiwa, maka renungkanlah ketika hilng keletihan tersebut. Pikirkanlah kebaikan. Kenikmatan, dan kebahagiaan yang engkau dapatkan di akhir keletihan ini. Timbanglah antara dua hal inidan utamakanlah yang lebih bagus dan baik.

Akal yang cerdas mengutamakan manfaat yang paling besar dengan mengorbangkan yang lebih kecil, menanggung beban penderitaan yang lebih ringan untuk menghindari yang lebih besar.

Tentu hal ini membutuhkan pengetahuan tentang hakikat hal-hal yang paling utama dan bermanfaat diantara dua pertimbangan. Siapa yang sempurna bagian akal dan keilmuannya, ia akan memilih dan mengutamakan yang afdhal. Sebaliknya, ketika kurang bagiannya dari dua hal tersebut atau salah satunya, maka ia akan memilih yang lebih rendah. Siapa yang memikirkan kehidupan dunia dan akhirat, ia akan mengetahui bahwa keduanya tidak bisa di dapat kecuali dengan kesusahan. Maka hendaknya ia menanggung kesusahan demi yang paling baik dan lebih kekal. [farhan]

referensi: Al Fawaid, Kaarya Ibnul Qoyyim.

Sumber: Tashfiyah edisi 08, Volume 01, halaman 96.. (Tiada Kata Seindah Doa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar